HUBUNGAN
ANTARA ANEMIA DALAM KEHAMILAN DENGAN KEJADIAN ATONIA UTERI DI
RSUD TASIKMALAYA
TAHUN 2011
PROPOSAL
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Metodologi Penilitian

Oleh:
EKA PUSPITA WULANDARI
NPM. 020090019
PROGRAM
STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN RESPATI TASIKMALAYA
2011
LEMBAR
PENGESAHAN
Proposal ini telah diterima pada .............
tanggal .................
Oleh:
Dosen
Mata Kuliah Metodologi Penelitian
(Santi Susanti, S.ST, M.Kes)
KATA
PENGANTAR
![]() |
Segala
puji dan
syukur penulis panjatkan kehadirat
Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan
hidayah serta berkat karunia – Nya penulis dapat menyelesaikan proposal ini dengan judul
“Hubungan Antara Anemia
Dalam Kehamilan Dengan Kejadian Atonia Uteri Di RSUD Tasikmalaya Tahun 2011”
sebagai salah satu syarat
untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian.
Penulis
menyadari bahwa dalam penyusunan proposal ini tidak terlepas dari peran serta
dan bantuan dari berbagai pihak, baik bantuan moril maupun materiil. Maka dari
itu perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya
kepada pihak – pihak yang telah ikhlas dalam mendukung maupun membimbing dalam
penyusunan proposal ini kepada:
1. dr. J.H.
Syahlan, SKM.,
selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Respati Tasikmalaya.
2. Santi Susanti, S.ST, M.Kes., selaku dosen Mata
Kuliah Metodologi Penelitian;
3. Rekan – rekan Mahasiswi Progran D – III Kebidanan
STIKes Respati Tasikmalaya yang telah memberikan
dukungan baik moral maupun spiritual.
“Tak Ada Gading
Yang Tak Retak”. Mengingat keterbatasan
pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman, maka dengan segala kerendahan hati
penulis menyadari proposal ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu
kritik dan saran yang bersifat konstruktif penulis terima dengan segenap
kerendahan hati.
Hanya
kepada Allah SWT, penulis memohon segala kebaikan Ibu menjadi amal shaleh.
Amin.
Tasikmalaya,
Juni 2011
Penulis
DAFTAR
ISI
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
.....................................................................................................
DAFTAR ISI
....................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..........................................................................................
B. Rumusan Masalah ....................................................................................
C. Tujuan Penelitian ......................................................................................
D. Manfaat Penelitian ...................................................................................
E. Ruang Lingkup Penelitian ........................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Anemia Dalam Kehamilan....................................................................
B. Atonia Uteri..........................................................................................
BAB III KERANGKA
KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL
A. Kerangka Konsep .....................................................................................
B. Hipotesis...............................................................................................
C. Definisi Operasional.............................................................................
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian .........................................................................................
B. Populasi Dan Sampel............................................................................
C. Variabel Penelitian................................................................................
D. Waktu Dan Lokasi Penelitian ..............................................................
E. Prosedur Pengumpulan Data................................................................
F. Instrumen Penelitian.............................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB)
merupakan salah satu indikator keberhasilan layanan kesehatan di suatu Negara.
Angka kematian ibu (AKI) indonesia Relatif tinggi dibandingkan dengan negara
lain di ASEAN yaitu sebesar 263 per 100.000 kelahiran hidup (SKRT, 2005). Menurut
Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, memaparkan bahwa AKI di
Indonesia tercatat sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup (Depkes ri, 2007).
Angka
Kematian Ibu Maternal berguna untuk mengetahui tingkat kesadaran perilaku hidup
sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan
kesehatan terutama untuk ibu hamil, ibu melahirkan dan nifas. Hasil Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007, bahwa AKI Jawa Barat tahun 2007
sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini dibandingkan tahun
sebelumnya menampilkan kecenderungan terjadi penurunan (Dinas Kesehatan
Propinsi Jawa Barat, 2007).
Di Kota
Tasikmalaya pada tahun 2007 kematian ibu sebanyak 14 orang, diantaranya
disebabkan oleh eklamsi 1 orang, abortus 1 orang, hipertensi 1 orang,
perdarahan 5 orang, dan yang disebabkan oleh lainnya sebanyak 6 orang (Dinas
Kesehatan Kota Tasikmalaya, 2008).
Kematian ibu
dapat digolongkan pada kematian obstetrik langsung dan kematian obstetrik
langsung oleh penyakit atau komplikasi lain yang sudah ada sebelum kehamilan
dan persalinan seperti hipertensi, DM, malaria dan anemia (Wiknyosastro).
Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat terbesar di Dunia terutama bagi
kelompok wanita produksi. Frekuensi ibu
hamil dengan anemia di Indonesia relatif tinggi yaitu 63,5%. Anemia dalam
kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dibawah 11 gr% pada
trimester I dan III atau kadar < 10,5 gr% pada trimester II (Saifuddin,
2002).
Anemia pada ibu hamil disebabkan oleh kekurangan zat
besi, kekurangan asam folat, infeksi dan kelainan darah. Anemia dalam kehamilan
dapat berpengaruh buruk terutama saat kehamilan, persalinan dan nifas.
Prevalensi anemia yang tinggi berakibat negatif seperti gangguan dan hambatan
pada pertumbuhan baik sel tubuh maupun sel otak dan kekurangan Hb dalam darah
mengakibatkan kurangnya oksigen yang dibawa/ditransfer ke sel tubuh maupun ke
otak (Manuaba, 2001). Ibu hamil yang menderita anemia memiliki kemungkinan akan
mengalami perdarahan postpartum yang disebabkan oleh atonia uteri.
Anemia pada umumnya terjadi di seluruh dunia
terutama di negara di negara berkembang (Devoloping Countries) dan pada
kelompok dewasa anemia terjadi pada wanita usia reproduksi terutama wanita
hamil dan wanita menyususi karena mereka banyak yang mengalami defisisensi Fe.
Secara keseluruhan anemia terjadi 45 % wanita di negara berkembang , 13 % di
Negara maju. Di Amerika terdapat 12 % wanita usia subur 15-49 tahun, 11 %
wanita usia subur mengalami wanita, sementara presentase wanita hamil dari
kalangan miskin terus meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan 18 % anemia
trimester I, 12 % anemia trimester II, dan 29 % anemia trimester III. Anemia
pada wanita masa nifas /pasca persalinan dan juga terjadi sekitar 10 % dan 20 %
terjadi pada ibu post partum dari keluarga miskin. Komplikasi yang paling
sering terjadi adalah seperti perdarahan, infeksi, abortus, dan partus lama
sekitar 90 % ( Depkes, 2003).
Menurut WHO 40
% kematian ibu di Negara berkembang berkaitan dengan anemia pada kehamilan dan
kebanyakan anemia pada kehamilan disebabkan oleh defisiensi zat besi dan
perdarahan akut, bahkan tak jarang keduanya memberikan pengaruh kurang baik
bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan, maupun dalam masa nifas dan masa
selanjutnya. Prevalensi anemia defisiensi besi (ABD) pada kehamilan di Negara
maju rata-rata 13 % (Baker, 2000).
B.
Rumusan
Masalah
Bertitik tolak pada uraian latar belakang masalah diatas,
maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut “Apakah terdapat
hubungan antara anemia dalam kehamilan dengan kejadian atonia uteri?”.
C.
Tujuan
Penelitian
1.
Tujuan Umum
Mengetahui adanya
hubungan antara anemia
dalam kehamilan dengan kejadian atonia uteri di RSUD Tasikmalaya.
2.
Tujuan Khusus
a.
Mengetahui
variasi kadar Hb pada ibu hamil di RSUD Tasikmalaya.
b.
Mengetahui
jumlah ibu hamil dengan anemia di RSUD Tasikmalaya.
c.
Mengetahui
jumlah kasus atonia uteri di RSUD Tasikmalaya.
d.
Membuktikan
adanya hubungan anemia dalam kehamilan dengan kejadian atonia
uteri.
D.
Manfaat
Penelitian
1.
Manfaat Teori
Dapat
memberikan informasi mengenai hubungan antara anemia pada kehamilan dengan
kejadian atonia uteri.
2.
Manfaat Praktisi
a.
Memberikan informasi bagi masyarakat,
khususnya ibu hamil mengenai pentingnya memeriksakan kadar Hb supaya bisa diketahui
tingkat anemia ibu sehingga timbul ketaatan untuk mengkonsumsi tablet besi dan
makanan bergizi.
b.
Memberikan informasi kepada tenaga
kesehatan, khususnya bidan mengenai bahaya anemia dalam kehamilan dan atonia
uteri, pemeriksaan deteksi anemia serta pemberian konseling mengenai persiapan
menghadapi persalinan.
E.
Ruang
Lingkup
1.
Lingkup Keilmuan
Ruang lingkup
keilmuan dalam penelitian ini yaitu Patologi Kebidanan terutama tentang anemia
dalam kehamilan dengan atonia uteri.
2.
Lingkup Metode
Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Survey Deskriptif Analitik dengan
pendekatan Cross Sectional.
3. Waktu dan Tempat Penelitian
a.
Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai
September
2011.
b.
Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Tasikmalaya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anemia Dalam Kehamilan
1. Definisi
Menurut Varney H (2006), anemia adalah kondisi
dimana sel darah merah menurun atau menurunnya hemoglobin, sehingga kapasitas
daya angkut oksigen untuk kebutuhan organ-organ vital pada ibu dan janin
menjadi berkurang. Selama kehamilan, indikasi anemia adalah jika konsentrasi
hemoglobin kurang dari 10,50 sampai dengan 11,00 gr/dl.
Menurut Saifuddin (2002), Anemia
adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12
gr% (Wiknjosastro, 2002). Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu
dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar
<10,5 gr% pada trimester II.
Menurut Mellyna (2005), anemia pada wanita hamil
jika kadar hemoglobin atau darah merahnya kurang dari 10,00 gr%. Penyakit ini
disebut anemia berat. Jika hemoglobin < 6,00 gr% disebut anemia gravis.
Jumlah hemoglobin wanita hamil adalah 12,00-15,00 gr% dan hematokrit adalah
35,00-45,00%.
Menurut Sarwono P (2002), anemia dalam
kandungan ialah kondisi ibu dengan kadar Hb < 11,00 gr%. Pada trimester I
dan III atau kadar Hb < 10,50 gr% pada trimester II. Karena ada perbedaan
dengan kondisi wanita tidak hamil karena hemodilusi terutama terjadi pada
trimester II.
Darah
akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut Hidremia atau
Hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan
bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Perbandingan tersebut
adalah sebagai berikut: plasma 30%, sel darah 18% dan haemoglobin 19%.
Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan
mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu (Wiknjosastro,
2002). Secara fisiologis, pengenceran darah ini untuk membantu meringankan
kerja jantung yang semakin berat dengan adanya kehamilan.
Kebanyakan
anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut
bahkan tidak jarang keduannya saling berinteraksi (Safuddin, 2002).
2. Etiologi
Menurut
Mochtar (1998) penyebab anemia pada umumnya adalah sebagai berikut:
a. Kurang
gizi (malnutrisi)
Disebabkan
karena kurang nutrisi kemungkinan menderita anemia.
b. Kurang
zat besi dalam diet
Diet
berpantang telur, daging, hati atau ikan dapat membuka kemungkinan menderita
anemia karena diet.
c. Mal
absorpsi
Penderita
gangguan penyerapan zat besi dalam usus dapat menderita anemia. Bisa terjadi
karena gangguan pencernaan atau dikonsumsinya substansi penghambat seperti
kopi, teh atau serat makanan tertentu tanpa asupan zat besi yang cukup.
d. Kehilangan
darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain
Semakin
sering seorang anemia mengalami kehamilan dan melahirkan akan semakin banyak
kehilangan zat besi dan akan menjadi anemia. Jika cadangan zat besi minimal,
maka setiap kehamian akan menguras persediaan zat besi tubuh dan akan
menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya.
e. Penyakit-penyakit
kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria dan lain-lain
3. Tanda dan gejala
Secara
klinik dapat dilihat ibu lemah, pucat, mudah pingsan, mata kunang-kunang,
sementara pada tekanan darah masih dalam batas normal, perlu dicurigai anemia
defisiensi. Untuk menegakkan
diagnosa
dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan melakukan pemeriksaan kadar Hb
(Saifuddin, 2002).
Menurut Taber (1994), tanda dan gejala anemia adalah
sebagai berikut:
a. Gejala
Yang Sering Terjadi
Kelelahan
dan kelemahan umum dapat merupakan satu-satunya gejala kapasitas oksigen.
Banyak pasien asimtomatik, bahkan dengan anemia derajat sedang.
b. Riwayat
Penyakit Dahulu
Riwayat
penyakit dahulu anemia refrakter, sering infeksi atau kolelitiasis atau riwayat
keluarga anemia menggambarkan kemungkinan Hemoglobinopati genetik.
c. Pemeriksaan
Fisik
Pemeriksaan
umum: Takikardi, takipnea, dan tekanan nadi yang melebar merupakan mekanisme
kompensasi untuk meningkatkan aliran darah dan pengangkutan oksigen ke organ
utama. Ikterus dapat dilihat pada anemia hemolitik. Gambaran fisik lain yang
menyertai anemia berat meliputi kardiomegali, bising, hepatomegali dan
splenomegali.
d. Tes
Laboratorium
Hitung
sel darah merah dan asupan darah : untuk tujuan praktis maka anemia selama kehamilan
dapat didefinisikan sebagai Hb < 10,00 atau 11,00 gr% dan hemotokrit <
30,00-33,00%. Asupan darah tepi memberikan evaluasi morfologi, eritrosit,
hitung jenis leukosit dan perkiraan kekuatan trombosit (Taber, 1994).
4. Klasifikasi anemia dalam kehamilan
Tabel
2.4.1 Kadar Hemoglobin Pada Perempuan Dewasa Dan Ibu Hamil Menurut WHO
Jenis
Kelamin
|
Hb
Normal
|
Hb
Anemia Kurang Dari
|
Perempuan
dewasa tidak hamil
|
12,00 – 15,00
|
12,00 (Ht 36,00%)
|
Perempuan
dewasa hamil
|
12,00 – 15,00
|
11,00 (Ht 33,00%)
|
Trimester
pertama
|
11,00 – 14,00
|
11,00 (Ht 33,00%)
|
Trimester
kedua
|
10,50 – 14,00
|
10,50 (Ht 31,00%)
|
Trimester
ketiga
|
11,00 – 14,00
|
11,00 (Ht 33,00%)
|
Lahir
(aterm)
|
13,50 – 18,50
|
13,50 (Ht 34,00%)
|
Sumber:
Tarwoto, 2008
Klasifikasi
Derajat
Anemia Menurut WHO yang dikutip dalam buku Handayani W, dan Haribowo A S,
(2008):
a. Ringan
sekali Hb 10,00 gr% - 13,00 gr%
b. Ringan
Hb 8,00 gr% - 9,90 gr%
c. Sedang
Hb 6,00 gr% - 7,90 gr%
d. Berat
Hb < 6,00 gr%
Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut
Mochtar (1998), adalah sebagai berikut:
a. Anemia Defisiensi Besi
Adalah anemia yang terjadi akibat
kekurangan zat besi dalam darah. Pengobatannya yaitu, keperluan zat besi untuk
wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah pemberian
tablet besi.
1) Terapi Oral adalah dengan memberikan
preparat besi yaitu fero sulfat, fero glukonat atau Na-fero bisirat. Pemberian
preparat 60 mg/ hari dapat menaikan kadar Hb sebanyak 1 gr%/ bulan. Saat ini
program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat
untuk profilaksis anemia (Saifuddin, 2002).
2) Terapi Parenteral baru diperlukan
apabila penderita tidak tahan akan zat besi per oral, dan adanya gangguan
penyerapan, penyakit saluran pencernaan atau masa kehamilannya tua
(Wiknjosastro, 2002). Pemberian preparat parenteral dengan ferum dextran
sebanyak 1000 mg (20 mg) intravena atau 2 x 10 ml/ IM pada gluteus, dapat
meningkatkan Hb lebih cepat yaitu 2 gr% (Manuaba, 2001).
Untuk menegakan diagnosa Anemia
defisiensi besi dapat dilakukan dengan anamnesa. Hasil anamnesa didapatkan
keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang dan keluhan mual
muntah pada hamil muda. Pada pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan
dengan menggunakan alat sachli, dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu
trimester I dan III. Hasil pemeriksaan Hb dengan sachli dapat digolongkan
sebagai berikut:
1) Hb 11 gr% : Tidak anemia
2) Hb 9-10 gr% : Anemia ringan
3) Hb 7 – 8 gr% : Anemia sedang
4) Hb < 7 gr% : Anemia berat
Kebutuhan zat besi pada wanita hamil
yaitu rata-rata mendekatai 800 mg. Kebutuhan ini terdiri dari, sekitar 300 mg
diperlukan untuk janin dan plasenta serta 500 mg lagi digunakan untuk
meningkatkan massa haemoglobin maternal. Kurang lebih 200 mg lebih akan
dieksresikan lewat usus, urin dan kulit. Makanan ibu hamil setiap 100 kalori
akan menghasilkan sekitar 8–10 mg zat besi. Perhitungan makan 3 kali dengan
2500 kalori akan menghasilkan sekitar 20–25 mg zat besi perhari. Selama
kehamilan dengan perhitungan 288 hari, ibu hamil akan menghasilkan zat besi sebanyak
100 mg sehingga kebutuhan zat besi masih kekurangan untuk wanita hamil
(Manuaba, 2001).
b. Anemia Megaloblastik
Adalah anemia yang disebabkan oleh
karena kekurangan asam folik, jarang sekali karena kekurangan vitamin B12.
Pengobatannya:
1) Asam folik 15 – 30 mg per hari
2) Vitamin B12 3 X 1 tablet per hari
3) Sulfas ferosus 3 X 1 tablet per hari
4) Pada kasus berat dan pengobatan per
oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah.
c. Anemia Hipoplastik
Adalah anemia yang disebabkan oleh
hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel darah merah baru. Untuk diagnostik
diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan diantaranya adalah darah tepi lengkap,
pemeriksaan pungsi ekternal dan pemeriksaan retikulosi.
d. Anemia Hemolitik
Adalah anemia yang disebabkan
penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya.
Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan,
kelemahan, serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ
vital.
Pengobatannya tergantung pada jenis
anemia hemolitik serta penyebabnya. Bila disebabkan oleh infeksi maka
infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. Namun pada
beberapa jenis obat-obatan, hal ini tidak memberi hasil. Sehingga transfusi
darah berulang dapat membantu penderita ini.
5. Patofisiologi
Darah
bertambah
banyak dalam kehamilan yang lazim disebut hidremia atau hipervolemia, akan
tetapi bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya
plasma, sehingga pengenceran darah. Pertambahan tersebut berbanding plasma
30,00%, sel darah merah 18,00% dan Hemoglobin 19,00%. Tetapi pembentukan sel
darah merah yang terlalu lambat sehingga menyebabkan kekurangan sel darah merah
atau anemia.
Pengenceran
darah dianggap penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat
bagi wanita, pertama pengenceran dapat meringankan beban jantung yang harus
bekerja lebih berat dalam masa kehamilan, karena sebagai akibat hidremia
cardiac output untuk meningkatkan kerja jantung lebih ringan apabila viskositas
rendah. Resistensi perifer berkurang, sehingga tekanan darah tidak naik, kedua
perdarahan waktu persalinan, banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit
dibandingkan dengan apabila darah ibu tetap kental. Tetapi pengenceran darah
yang tidak diikuti pembentukan sel darah merah yang seimbang dapat menyebabkan
anemia.
Bertambahnya
volume darah dalam kehamilan dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai
puncaknya dalam kehamilan 32 dan 36 minggu (Setiawan Y, 2006).
6. Efek anemia pada ibu hamil,
bersalin, dan nifas
Anemia
dapat terjadi pada setiap ibu hamil, karena itulah kejadian ini harus selalu
diwaspadai. Anemia yang terjadi saat ibu hamil Trimester I akan dapat
mengakibatkan: abortus, missed abortus dan kelainan
kongenital. Anemia pada kehamilan trimester II dapat menyebabkan: persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia intrauterin sampai kematian, BBLR, gestosis dan mudah terkena infeksi, IQ rendah dan bahkan bisa
mengakibatkan kematian. Saat inpartu, anemia dapat menimbulkan gangguan his
baik primer maupun sekunder, janin akan lahir dengan anemia, dan persalinan
dengan tindakan yang disebabkan karena ibu cepat lelah. Saat post partum anemia
dapat menyebabkan: atonia
uteri, retensio placenta,
pelukaan sukar sembuh, mudah terjadi febris puerpuralis dan gangguan involusio
uteri.
7.
Penanganan anemia dalam kehamilan menurut tingkat pelayanan
(Saifuddin, 2002)
a.
Polindes
1) Membuat
diagnosis klinik dan rujukan pemeriksaan laboratorium.
2) Memberikan
terapi oral : tablet besi 90 mg/hari.
3)
Penyuluhan gizi ibu hamil dan menyusui.
b.
Puskesmas
1)
Membuat dignosis dan terapi.
2)
Menentukan penyakit kronik (malaria,
TBC) dan penanganannya.
c.
Rumah Sakit
1) Membuat
diagnosis dan terapi.
2) Diagnosis
thalasemia dengan elektroforesis Hb, bila ibu ternyata pembawa sifat, perlu tes
pada suami untuk menentukan risiko pada bayi.
Kejadian
anemia pada ibu hamil harus selalu diwaspadai mengingat anemia dapat
meningkatkan risiko kematian ibu, angka prematuritas, BBLR dan angka kematian
bayi. Untuk mengenali kejadian anemia pada kehamilan, seorang ibu harus
mengetahui gejala anemia pada ibu hamil, yaitu cepat lelah, sering pusing, mata
berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia),
konsentrasi hilang, napas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah
lebih hebat pada kehamilan muda.
B. Atonia Uteri
1. Definisi
Perdarahan pasca persalinan
didefinisikan sebagai kehilangan
500
ml atau lebih darah setelah persalinan pervaginam atau 1000 ml atau lebih setelah
seksio sesaria (Kenneth, 2009).
Persarahan post partum
adalah perdarahan lebih dari 500 – 600 cc dalam 24 jam setelah anak dan
plasenta lahir. Pada kasus perdarahan terutama perdarahan post partum, atonia
uteri menjadi penyebab lebih dari 90% perdarahan pasca persalinan yang terjadi
dalam 24 jam setelah kelahiran bayi. (Ripley, 1999)
Atonia Uteri adalah
suatu kondisi dimana Myometrium tidak dapat berkontraksi
dan bila ini terjadi maka darah yang keluar dari bekas tempat melekatnya
plasenta menjadi tidak terkendali. (Apri, 2007)
Atonia uteri merupakan penyebab
terbanyak perdarahan pospartum dini (50%), dan merupakan alasan paling sering
untuk melakukan histerektomi postpartum. Kontraksi uterus merupakan mekanisme
utama untuk mengontrol perdarahan setelah melahirkan. Atonia terjadi karena
kegagalan mekanisme ini.
Perdarahan pospartum
secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serabut-serabut miometrium yang
mengelilingi pembuluh darah yang memvaskularisasi daerah implantasi plasenta.
Atonia uteri terjadi apabila serabut-serabut miometrium tidak berkontraksi.
2. Etiologi
Beberapa faktor predisposisi yang
terkait dengan perdarahan pasca persalinan yang disebabkan oleh atonia uteri, diantaranya adalah:
a.
Yang
menyebabkan uterus membesar lebih dari normal selama kehamilan diantaranya:
1)
Jumlah
air ketuban yang berlebihan (Polihidramnion)
2)
Kehamilan
gemelli
3)
Janin
besar (makrosomia)
b.
Kala
satu atau kala 2 memanjang
c.
Persalinan
cepat (partus presipitatus)
d.
Persalinan
yang diinduksi atau dipercepat dengan oksitosin
e.
Infeksi
intrapartum
f.
Multiparitas
tinggi
g.
Magnesium
sulfat digunakan untuk mengendalikan kejang pada preeklampsia/eklampsia
Atonia uteri
juga dapat timbul karena salah penanganan kala III persalinan,
dengan memijat uterus dan mendorongnya ke bawah dalam usaha
melahirkan plasenta, sedang sebenarnya belum terlepas
dari uterus.
Menurut Roestman (1998), faktor predisposisi terjadinya
Atonia Uteri adalah:
a.
Umur:
Umur yang terlalu muda atau tua
b.
Paritas:
Sering dijumpai pada multipara dan grademultipara
c.
Obstetri
operatif dan narkosa
d.
Uterus
terlalu diregang dan besar, pada gemeli, hidramnion, atau janin besar
e.
Kelainan
pada uterus seperti mioma uteri
f.
Faktor
sosio ekonomi yaitu mal nutrisi
3. Gejala klinis
a.
Uterus
tidak berkontraksi dan lunak
b.
Perdarahan
segera setelah plasenta dan janin lahir (P3).
4. Pencegahan
Pemberian oksitosin rutin pada
kala III dapat mengurangi risiko perdarahan pospartum lebih dari 40%, dan juga
dapat mengurangi kebutuhan obat tersebut sebagai terapi. Menejemen aktif kala
III dapat mengurangi jumlah perdarahan dalam persalinan, anemia, dan kebutuhan
transfusi darah.
Kegunaan utama oksitosin sebagai
pencegahan atonia uteri yaitu onsetnya yang cepat, dan tidak menyebabkan
kenaikan tekanan darah atau kontraksi tetani seperti ergometrin. Pemberian
oksitosin paling bermanfaat untuk mencegah atonia uteri. Pada manajemen kala
III harus dilakukan pemberian oksitosin setelah bayi lahir. Aktif protokol
yaitu pemberian 10 unit IM, 5 unit IV bolus atau 10-20 unit per liter IV drip
100-150 cc/jam.
Analog sintetik oksitosin, yaitu
karbetosin, saat ini sedang diteliti sebagai uterotonika untuk mencegah dan
mengatasi perdarahan pospartum dini. Karbetosin merupakan obat long-acting dan
onset kerjanya cepat, mempunyai waktu paruh 40 menit dibandingkan oksitosin
4-10 menit. Penelitian di Canada membandingkan antara pemberian karbetosin
bolus IV dengan oksitosin drip pada pasien yang dilakukan operasi sesar.
Karbetosin ternyata lebih efektif dibanding oksitosin.
5. Penatalaksanaan
a.
Penanganan
umum
1)
Mintalah
Bantuan. Segera mobilisasi tenaga yang ada dan siapkan fasilitas tindakan gawat
darurat.
2)
Lakukan
pemeriksaan cepat keadaan umum ibu termasuk tanda vital(TNSP).
3)
Jika
dicurigai adanya syok segera lakukan tindakan. Jika tanda -tanda syok tidak
terlihat, ingatlah saat melakukan evaluasi lanjut karena status ibu tersebut
dapat memburuk dengan cepat.
4)
Jika
terjadi syok, segera mulai penanganan syok.oksigenasi dan pemberian cairan
cepat, Pemeriksaan golongan darah dan crossmatch perlu dilakukan untuk
persiapan transfusi darah.
5)
Pastikan
bahwa kontraksi uterus baik:
Lakukan pijatan uterus untuk
mengeluarkan bekuan darah. Bekuan darah yang terperangkap di uterus akan
menghalangi kontraksi uterus yang efektif. Berikan 10 unit oksitosin IM
6)
Lakukan
kateterisasi, dan pantau cairan keluar-masuk.
7)
Periksa
kelengkapan plasenta Periksa kemungkinan robekan serviks, vagina, dan perineum.
8)
Jika
perdarahan terus berlangsung, lakukan uji beku darah.
Setelah
perdarahan teratasi (24 jam setelah perdarahan berhenti), periksa
kadarHemoglobin:
1) Jika Hb kurang dari 7 g/dl atau
hematokrit kurang dari 20%( anemia berat):berilah sulfas ferrosus 600 mg atau
ferous fumarat 120 mg ditambah asam folat 400 mcg per oral sekali sehari selama
6 bulan
2) Jika Hb 7-11 g/dl: beri sulfas
ferrosus 600 mg atau ferous fumarat 60 mg ditambah asam folat 400 mcg per oral
sekali sehari selama 6 bulan
b.
Penanganan
khusus
1)
Kenali
dan tegakkan diagnosis kerja atonia uteri.
2)
Teruskan
pemijatan uterus.Masase uterus akan menstimulasi kontraksi uterus yang
menghentikan perdarahan.
3)
Oksitosin
dapat diberikan bersamaan atau berurutan.
4)
Jika
uterus berkontraksi. Evaluasi, jika uterus berkontraksi tapi perdarahan uterus
berlangsung, periksa apakah perineum / vagina dan serviks mengalami laserasi
dan jahit atau rujuk segera.
5)
Jika
uterus tidak berkontraksi maka: Bersihkanlah bekuan darah atau selaput ketuban
dari vagina & ostium serviks. Pastikan bahwa kandung kemih telah kosong.
Antisipasi
dini akan kebutuhan darah dan lakukan transfusi sesuai kebutuhan.
Jika
perdarahan terus berlangsung:
Pastikan
plasenta plasenta lahir lengkap;Jika terdapat tanda-tanda sisa plasenta (tidak
adanya bagian permukaan maternal atau robeknya membran dengan pembuluh
darahnya), keluarkan sisa plasenta tersebut.Lakukan uji pembekuan darah
sederhana.
Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah menunjukkan adanya koagulopati.
Kegagalan terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah menunjukkan adanya koagulopati.
Jika
perdarahan terus berlangsung dan semua tindakan di atas telah dilakukan,
lakukan:
Kompresi
bimanual internal, kompresi bimanual eksternal atau Kompresi aorta abdominalis.
Lakukan kompresi bimanual internal (KBI) selama 5 menit.
1) Jika uterus berkontraksi, teruskan
KBI selama 2 menit, keluarkan tangan perlahan-lahan dan pantau kala empat
dengan ketat.Jika uterus tidak berkontraksi, maka : Anjurkan keluarga untuk
mulai melakukan kompresi bimanual eksternal; Keluarkan tangan perlahan-lahan;
Berikan ergometrin 0,2 mg LM (jangan diberikan jika hipertensi); Pasang infus
menggunakan jarum ukuran 16 atau 18 dan berikan 500 ml RL + 20 unit oksitosin.
Habiskan 500 ml pertama secepat mungkin; Ulangi KBI,Jika uterus berkontraksi,
pantau ibu dengan seksama selama kala empat.
2) Jika uterus tidak berkontraksi maka
rujuk segera
Jika perdarahan terus berlangsung setelah dilakukan
kompresi:
1) Lakukan ligasi arteri uterina dan
ovarika.
2) Lakukan histerektomi jika terjadi
perdarahan yang mengancam jiwa setelah ligasi.
Kompresi
uterus bimanual dapat ditangani tanpa kesulitan dalam waktu 10-15 menit.
Biasanya ia sangat baik mengontrol bahaya sementara dan sering menghentikan
perdarahan secara sempurna.Bila uterus refrakter oksitosin, dan perdarahan
tidak berhenti setelah kompresi bimanual, maka histerektomi tetap merupakan
tindakan terakhir.
Uterotonika:
1)
Oksitosin
Merupakan
hormon sintetik yang diproduksi oleh lobus posterior hipofisis. Obat ini
menimbulkan kontraksi uterus yang efeknya meningkat seiring dengan meningkatnya
umur kehamilan dan timbulnya reseptor oksitosin. Pada dosis rendah oksitosin
menguatkan kontraksi dan meningkatkan frekwensi, tetapi pada dosis tinggi
menyebabkan tetani.
Oksitosin
dapat diberikan secara IM atau IV, untuk perdarahan aktif diberikan lewat infus
dengan Larutan Ringer laktat 20 IU perliter, jika sirkulasi kolaps bisa
diberikan oksitosin 10 IU intramiometrikal (IMM).
Efek
samping pemberian oksitosin sangat sedikit ditemukan yaitu nausea dan vomitus,
efek samping lain yaitu intoksikasi cairan jarang ditemukan.
2)
Metilergonovin maleat
Merupakan
golongan ergot alkaloid yang dapat menyebabkan tetani uteri setelah 5 menit
pemberian IM. Dapat diberikan secara IM 0,25 mg, dapat diulang setiap 5 menit
sampai dosis maksimum 1,25 mg, dapat juga diberikan langsung pada miometrium
jika diperlukan (IMM) atau IV bolus 0,125 mg.
Obat ini dikenal dapat menyebabkan vasospasme perifer dan hipertensi, dapat juga menimbulkan nausea dan vomitus. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan hipertensi.
Obat ini dikenal dapat menyebabkan vasospasme perifer dan hipertensi, dapat juga menimbulkan nausea dan vomitus. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien dengan hipertensi.
3)
Prostaglandin (Misoprostol)
Merupakan
sintetik analog 15 metil prostaglandin F2alfa.
Misoprostol dapat diberikan secara intramiometrikal, intraservikal, transvaginal, intravenous, intramuscular, dan rectal. Pemberian secara IM atau IMM 0,25 mg, yang dapat diulang setiap 15 menit sampai dosis maksimum 2 mg. Pemberian secara rektal dapat dipakai untuk mengatasi perdarahan pospartum (5 tablet 200 µg = 1 g).
Misoprostol dapat diberikan secara intramiometrikal, intraservikal, transvaginal, intravenous, intramuscular, dan rectal. Pemberian secara IM atau IMM 0,25 mg, yang dapat diulang setiap 15 menit sampai dosis maksimum 2 mg. Pemberian secara rektal dapat dipakai untuk mengatasi perdarahan pospartum (5 tablet 200 µg = 1 g).
Prostaglandin
ini merupakan uterotonika yang efektif tetapi dapat menimbulkan efek samping
prostaglandin seperti: nausea, vomitus, diare, sakit kepala, hipertensi dan
bronkospasme yang disebabkan kontraksi otot halus, bekerja juga pada sistem
termoregulasi sentral, sehingga kadang-kadang menyebabkan muka kemerahan,
berkeringat, dan gelisah yang disebabkan peningkatan basal temperatur, hal ini
menyebabkan penurunan saturasi oksigen.
Uterotonika
ini tidak boleh diberikan pada ibu dengan kelainan kardiovaskular, pulmonal,
dan gangguan hepatik. Efek samping serius penggunaannya jarang ditemukan dan
sebagian besar dapat hilang sendiri. Dari beberapa laporan kasus penggunaan
prostaglandin efektif untuk mengatasi perdarahan persisten yang disebabkan
atonia uteri dengan angka keberhasilan 84%-96%. Perdarahan pospartum dini
sebagian besar disebabkan oleh atonia uteri maka perlu dipertimbangkan
pemakaian Uterotonika untuk menghindari perdarahan masif yang terjadi.
Kompresi uterus
bimanual:
1)
Kompresi uterus
bimanual internal (KBI)
Uterus
ditekan di antara telapak tangan pada dinding abdomen dan tinju tangan dalam
vagina untuk menjepit pembuluh darah di dalam miometrium (sebagai pengganti
mekanisme kontraksi). Perhatikan perdarahan yang terjadi. Pertahankan kondisi
ini bila perdarahan berkurang atau berhenti, tunggu hingga uterus berkontraksi
kembali. Apabila perdarahan tetap terjadi , coba kompresi aorta abdominalis.
2)
Kompresi uterus
bimanual eksternal (KBE)
Letakkan satu tangan anda pada dinding perut, dan usahakan sedapat mungkin
meraba bagian belakang uterus. Letakan tangan yang lain dalam keadaan terkepal
pada bagian depan korpus uteri, kemudian rapatkan kedua tangan untuk menekan
pembuluh darah di dinding uterus dengan jalan menjepit uterus di antara kedua
tangan tersebut.
3)
Kompresi uterus aorta
abnominalis (KAA)
Raba
arteri femoralis
dengan ujung jari tangan kiri, pertahankan posisi tersebut,genggam tangan kanan
kemudian tekankan pada daerah umbilikus, tegak lurus dengan sumbu badan, hingga
mencapai kolumna vertebralis. Penekanan yang tepat akan menghentikan atau
sangat mengurangi denyut arteri femoralis. Lihat hasil kompresi dengan
memperhatikan perdarahan yang terjadi.
Tabel
2.5.2 Langkah
– langkah rinci penatalaksanaan atonia
uteri pasca persalinan
No
|
Langkah
|
Keterangan
|
1
|
Lakukan masase fundus uteri segera setelah plasenta dilahirkan
|
Masase merangsang kontraksi uterus. Sambil melakukan
masase sekaligus dapat
dilakukan penilaian kontraksi uterus
|
2
|
Bersihkan kavum uteri dari selaput
ketuban dan gumpalan darah
|
Selaput ketuban atau gumpalan darah dalam
kavum uteri akan dapat menghalangi kontraksi
uterus secara baik
|
3
|
Mulai lakukan kompresi bimanual
interna. Jika uterus berkontraksi keluarkan tangan setelah 1 – 2 menit. Jika uterus tetap tidak berkontraksi teruskan kompresi bimanual interna hingga 5 menit |
Sebagian besar atonia uteri akan
teratasi dengan tindakan ini. Jika
kompresi bimanual tidak berhasil setelah 5
menit, diperlukan tindakan lain
|
4
|
Minta keluarga untuk melakukan
kompresi bimanual eksterna
|
Bila penolong hanya seorang diri,
keluarga dapat meneruskan proses kompresi bimanual
secara eksternal selama anda melakukan
langkah-langkah selanjutnya
|
5
|
Berikan Metil ergometrin 0,2 mg
intramuskular/ intra vena
|
Metil ergometrin yang diberikan secara intramuskular
akan mulai bekerja dalam 5 – 7 menit
dan menyebabkan kontraksi
uterus. Pemberian intravena bila sudah
terpasang infus sebelumnya
|
6
|
Berikan infus cairan larutan Ringer laktat dan
Oksitosin 20 IU/500 cc
|
Setelah
memberikan Oksitosin pada
waktu penatalaksanaan aktif kala tiga dan Metil ergometrin intramuskuler. Oksitosin intravena akan bekerja segera untuk menyebabkan uterus berkontraksi. Ringer Laktat akan membantu memulihkan volume cairan yang hilang selama atoni. Jika uterus wanita belum berkontraksi selama 6 langkah pertama, sangat mungkin bahwa ia mengalami perdarahan postpartum dan memerlukan penggantian darah yang hilang secara cepat. |
7
|
Mulai lagi kompresi bimanual interna atau Pasang
tampon uterovagina
|
Jika atoni tidak teratasi setelah 7
langkah pertama, mungkin ibu mengalami masalah serius
lainnya. Tampon uterovagina dapat dilakukan apabila
penolong telah terlatih. Rujuk segera ke rumah
sakit
|
8
|
Buat persiapan untuk merujuk segera
|
Atonia bukan merupakan hal yang sederhana dan
memerlukan perawatan gawat darurat di
fasilitas dimana dapat dilaksanakan bedah
dan pemberian tranfusi darah |
9
|
Teruskan cairan intravena hingga ibu mencapai tempat
rujukan
|
Berikan infus 500 cc cairan pertama dalam waktu 10
menit. Kemudian ibu memerlukan cairan tambahan, setidak – tidaknya 500 cc/jam
pada jam pertama, dan 500 cc/4 jam pada jam – jam berikutnya. Jika tidak
mempunyai cukup persediaan cairan intravena, berikan cairan 500 cc yang
ketiga tersebut dengan perlahan, hingga cukup untuk sampai ditempat rujukan.
Berikan ibu minum untuk tambahan rehidrasi.
|
10
|
Lakukan laparotomi:
Pertimbangkan antara mempertahankan uterus dengan
ligasiarteri uterina/hipogastrika atau histerektomi
|
Pertimbangan antara lain paritas, kondisi ibu,
jumlah perdarahan
|
Sumber:
Buku Acuan Pelatihan Pelayanan
Obstetri Neonatal Emergensi Dasar
BAB III
KERANGKA
KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL
A. Kerangka Konsep
Berdasarkan tinjauan teori pada bab
sebelumnya, maka dengan segala keterbatasan, peneliti merumuskan dalam kerangka
konsep sebagai berikut:
![]() |
Gambar
3.1 Kerangka Konsep
B. Hipotesis
Ada hubungan
antara anemia dalam kehamilan dengan atonia uteri
C. Definisi Operasional
Tabel 3.1
Definisi Operasional
No
|
Variabel
|
Definisi
Operasional
|
Alat
Ukur
|
Cara
Ukur
|
Hasil
Ukur
|
Skala
|
Kategori
|
1.
|
Anemia dalam
kehamilan
|
Kondisi ibu dengan kadar haemoglobin di
bawah 11 gr%
pada kehamilan trimester III
|
Data KIA
|
Observasi
|
Data kadar Hb
ibu hamil
|
Nominal
|
Anemia (kadar
Hb > 11,00 gr/dl
|
2.
|
Atonia uteri
|
Perdarahan
saat persalinan yang lebih dari 500 cc dimana tidak ada his atau kontraksinya
tidak terkendali
|
Pispot,
bengkok, underpad dan softek
|
Observasi
|
Data perkiraan
jumlah darah
|
Nominal
|
perdarahan lebih dari 500 ml setelah bayi lahir
pada
persalinan pervaginam dan mengalami atonia uteri
|
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini
termasuk jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode analitik yaitu
suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama mengkaji hubungan
suatu keadaan secara objektif. Penelitian ini
melalui pendekatan cross sectional yaitu pendekatan dimana objek sekali
observasi dan pengukuran dilaksanakan pada saat penelitian dengan menggunakan
data KIA dan observasi langsung dengan satu pengamatan. Dimana data dikumpulan
pada waktu bersamaan dan setiap objek hanya diteliti satu kali saja. Dengan
metode ini diharapkan mengetahui bagaimana hubungan antara anemia dalam
kehamilan dengan kejadian atonia uteri di RSUD Tasikmalaya Tahun 2011.
B. Populasi Dan Sampel
1.
Populasi
Populasi adalah pengambilan keseluruhan subyek/obyek
penelitian yang mempunyai kuantitas dan karateristik tertentu untuk dipelajari
dan kemudian ditarik kesimpulan (Hidayat, 2009). Populasi dari penelitian ini
adalah ibu-ibu hamil yang bersalin di
RSUD Tasikmalaya.
2.
Sampel
Sampel
adalah sebagian yang diambil dadri keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap
mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2002: 79). Dalam penelitian ini
pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan tehnik random sampling suatu tehnik pengambilan sampel acak yang berdasarkan responden yang tersedia dimana.
C. Variabel Penelitian
Varibel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 2
variabel yaitu sebagai berikut:
1. Variebel Bebas: Anemia dalam kehamilan
2. Variabel Terikat: Atonia Uteri
D. Waktu Dan Lokasi Penelitian
Waktu penelitian
dilaksanakan pada bulan Juli hingga september tahun 2011, dengan pengambilan
lokasi penelitian di RSUD Tasikmalaya dimana pemilihan tempat penelitian ini
didasarkan atas berbagai pertimbangan peneliti yaitu lokasi tempat penelitian
yang sudah mencukupi jumlah populasi dan sampel serta persyaratan penelitian.
E. Prosedur Pengumpulan Data
Data yang diperoleh
dari penelitian ini adalah dari data primer dan data sekunder.
Data primer yaitu data yang diperoleh
dari lapangan secara langsung melalui observasi di ruang bersalin RSUD
Tasikmalaya. Data yang dikumpulkan dari pengamatan kontraksi dan penilaian
perdarahan.
1. Penilaian
kontraksi:
Melakukan observasi secara langsung kontraksi uterus
dengan melihat kuat dan lemahnya kontraksi serta tinggi fundus uteri (TFU).
2. Penilaian
perdarahan:
a.
Alat: pispot, bengkok, gelas ukur,
timbangan, underpad “one med” (90cm X 60cm), softek “sofie” (37 cm)
b.
Cara kerja: setelah bayi lahir, darah
diukur dengan menampung dalam pispot dan bengkok. Kemudian darah yang
tertampung diukur dengan gelas ukur yang telah disediakan.
Alas underpad diganti, setelah responden selesai
dibersihkan underpad ditimbang dan dibandingkan antara yang masih bersih dengan
yang telah digunakan. Kemudian hasil perbandingan diukur kembali dengan mengisi
gelas ukur yang telah ditimbang dengan darah, isi darah pada gelas ukur setara
dengan penambahan berat pada underpad yang telah ditimbang.
Pada kala IV responden dipakaikan pembalut yang
telah disediakan oleh peneliti. Setelah kala IV, berat pembalut ditimbang dan
dibandingkan seperti pada underpad. Hasil dari pengukuran darah dicatat dalam
lembar observasi.
Data sekunder adalah data yang tidak
diperoleh secara langsung. Data diperoleh dari rekam medik pasien bersalin yang
terdapat di ruang bersalin RSUD Tasikmalaya dan data hasil pemeriksaan
laboratorium pasien.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa buku KIA yang ibu hamil miliki dan
observasi langsung di lapangan.
Wuryanti,
Ayu. 2010. Hubungan Anemia Dalam
Kehamilan Dengan Perdarahan Postpartum Karena Atonia Uteri Di Rsud Wonogiri.
[Online]. Tersedia: http://digilib.uns.ac.id/upload/dokumen/167420309201012551.pdf. [23
Juni 2011].
Lubis,
M.P. 2011. Hubungan Anemia Selama Kehamilan. [Online]. Tersedia: http://kti-akbid.blogspot.com/2011/04/kti-hubungan-anemia-selama-kehamilan_21.html. [23
Juni 2011].
Dinkes
Kab Tasikmalaya. Angka Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya. [Online]. Tersedia: http://dinkeskabtasik.com/index.php/en/berita/1-terbaru/409-angka-kesehatan-kabupaten-tasikmalaya.html. [23
Juni 2011].
Jaka.
2010. Atonia Uteri. [Online]. Tersedia: http://www.drjaka.com/2010/01/atonia-uteri.html. [23
Juni 2011].
Hapsari,
Rahma Windy. 2010. Anemia Dalam Kehamilan. [Onine]. Tersedia: http://superbidanhapsari.wordpress.com/2010/10/12/anemia-dalam-kehamilan/.
[23 Juni 2011].
Rofiq,
Ahmad. 2008. Anemia Pada Ibu Hamil. [Online]. Tersedia: http://rofiqahmad.wordpress.com/2008/01/24/anemia-pada-ibu-hamil/.
[23 Juni 2011].
Qikey.
2007. Manajemen Atonia Uteri. [Online]. Tersedia: http://free-medical.blogspot.com/2007/09/manajemen-atonia-uteri.html.
[23
Juni 2011].
Admin.
2009. Perdarahn Post Partum. [Online]. Tersedia: http://medlinux.blogspot.com/2009/02/perdarahan-post-partum.html.
[23
Juni 2011].
Anonim.
2011. Pelatihan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi
Dasar. [Online]. Tersedia: http://www.scribd.com/doc/6502612/Perdarahan-Postpartum. [23
Juni 2011].


Tidak ada komentar:
Posting Komentar