Kamis, 02 Februari 2012

HUBUNGAN PENGETAHUAN TERHADAP PELAKSANAAN IMUNISASI TT PRANIKAH DI DESA WANARAJA KABUPATEN GARUT


HUBUNGAN PENGETAHUAN TERHADAP PELAKSANAAN IMUNISASI TT PRANIKAH DI DESA WANARAJA
KABUPATEN GARUT



Makalah



Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Metodologi Penilitian




STIKes




Disusun oleh :
Anne Sri Nurwenda
Dewi Sopiani
Dini Andriani
Eka Puspita Wulandari
Erli Septiawati
Rani Anggraeni
Sumber Wigati
Yanti
0200090007
0200090013
0200090016
0200090019
0200090025
0200090066
0200090088
0200090095



PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN  RESPATI TASIKMALAYA
2011

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pernikahan merupakan pengalaman hidup yang sangat penting sebagai media penyatuan fisik dan psikis antara dua insan dan penggabungan kedua keluarga besar dalam rangka ibadah melaksanakan perintah Allah SWT. Pemeriksaan kesehatan pranikah penting bagi kedua pasangan. Tujuannya, agar terhindar dan mendeteksi penyakit secara dini. Namun, persiapan ini sering kali terabaikan dan bahkan disepelekan. Pemeriksaan kesehatan pranikah atau yang lebih spesifik yaitu pemberian imunisasi tetanus toxoid pada calon pasangan pengantin masih dianggap belum begitu perlu dan penting bagi calon pasangan pengantin. Beragam alasan menyeruak ketika calon pengantin ditawari melakukan pemeriksaan kesehatan pranikah terutama imunisasi tetanus toxoid yang pada dasarnya memang sangat bermanfaat bagi kehamilan calon pengantin perempuan kelak. Mulai dari menyita banyak waktu, menambah daftar kesibukan atau pemborosan karena menyedot biaya lebih banyak dan justru ditakutkan akan mengancam kelangsungan hubungan itu sendiri apabila hasil cek kesehatan menunjukkan adanya kelainan yang cukup serius pada kondisi medis keduanya. Bahkan ada yang menganggap bahwa imunisasi tetanus toxoid pranikah ini sama dengan pemberian KB suntik yang dengan sangat jelas sekali berbeda.
Secara internasional pada tahun 1992 terhitung sekitar 578.000 bayi mengalami kematian karena tetanus neonatorum. Pada tahun 2000, dengan data dari WHO menghitung insidensi secara global kejadian tetanus di dunia secara kasar berkisar antara 0,5 – 1 juta kasus dan tetanus neonatorum terhitung sekitar 50% dari kematian akibat tetanus di negara – negara berkembang. Perkiraan insidensi tetanus secara global adalah 18 per 100.000 populasi per tahun. Di negara berkembang, tetanus lebih sering mengenai laki – laki dibanding perempuan dengan perbandingan 3 : 1 atau 4 :1, (Lockjaw, 2008).
Berdasarkan biro pusat statistik angka kematian bayi di Indonesia yang disebabkan oleh penyakit tetanus neonatorum masih tetap tinggi. Tercatat pada tahun 1995 terjadi kasus dengan refelensi 55/1000 angka kelahiran hidup. Jumlah kasus Tetanus Neonatorum pada tahun 2003 sebanyak 175 kasus dengan angka kematian 56% (Depkes RI, 2003). Angka ini sedikit menurun dibanding tahun sebelumnya. Hal ini diduga karena meningkatnya cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan. Namun secara keseluruhan angka kematian bayi masih tetap tinggi. Penanganan Tetanus Neonatorum memang tidak mudah, sehingga yang terpenting adalah usaha pencegahan, yaitu Pertolongan Persalinan yang higienis ditunjang dengan Imunisasi Tetanus Toxoid pada ibu hamil (Depkes RI, 2008)
Di Indonesia terutama di daerah-daerah pedesaan, masih terdapat banyak perkawinan dibawah umur. Kebiasaan ini berasal dari adat yang berlaku sejak dahulu dan terbawa sampai sekarang. Dengan kebiasaan masyarakat yang seperti itu akan menimbulkan berbagai masalah tersendiri bagi remaja khususnya remaja putri yang akan menikah pada usia yang masih dini, diantara masalah yang mungkin muncul adalah rendahnya pengetahuan remaja putri tentang imunisasi TT pranikah dalam upaya pencegahan terjadinya infeksi tetanus neonatorum, (Susilowati, 2008).
Hal ini ditegaskan oleh Sumartini dalam skripsinya yang menyatakan bahwa, pengetahuan masyarakat tentang pentingnya imunisasi pranikah masih rendah. Hal ini dibuktikan dengan uji chi squer yang memperoeh hasil 0,07. Dan ini membuktikan variable pengetahuan sangat mempengaruhi minat masyarakat untuk melakukan imunisasi pranikah dalam upaya pencegahan terjadinya infeksi neonatorum (Sumartini, 2004).
Program imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi. Dalam upaya mencegah tetanus neonatorum maka imunisasi diarahkan pada pemberian perlindungan bayi baru lahir dalam minggu-minggu pertama melalui ibu, (Sumarno, 2004).

B.     Rumusan Masalah
Bertitik tolak pada uraian latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut Apakah terdapat hubungan pengetahuan calon pengantin tentang imunisasi tetanus toxoid (imunisasi TT) dengan rendahnya minat terhadap imunisasi TT pranikah?”.


C.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Mengetahui adanya hubungan antara pengetahuan terhadap pelaksanaan imunisasi TT pranikah di Desa Wanaraja Kabupaten Garut.
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui hubungan pengetahuan calon pengantin tentang kegiatan pelaksanaan imunisasi TT Pranikah di desa Wanaraja Kabupaten Garut .
b.      Untuk mengetahui hubungan perilaku calon pengantin tentang kegiatan pelaksanaan imunisasi TT pranikah di desa Wanaraja Kabupaten Garut .

D.    Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teori
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan acuan bagi peneliti lain yang berkeinginan untuk melakukan penelitian tentang hubungan pengetahuan terhadap pelaksanaan imunissai TT pranikah juga sebagai bahan referensi tentang permasalahan di bidang pencegahan dan promotif kesehatan masyarakat.
2.      Manfaat Praktisi
a.       Sebagai acuan dalam penentuan arah kebijakan terhadap pelaksanaan program di lapangan yaitu Puskesmas dan jaringannya, khususnya dalam upaya pelayanan kesehatan calon pengantin untuk upaya penurunan AKB.
b.      Sebagai kontribusi terhadap institusi tempat bekerja dimana diharapkan dapat dijadikan bahan masukan untuk pencapaian dan peningkatan program di Puskesmas dan jaringannya.

E.     Ruang Lingkup Penelitian
1.      Lingkup Keilmuan
Ruang lingkup keilmuan dalam penelitian ini yaitu Kesehatan Reproduksi terutama tentang persiapan imunisasi pranikah.
2.      Lingkup Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Survey Deskriptif Analitik dengan pendekatan Cross Sectional.
2.      Waktu dan Tempat Penelitian
a.       Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2011
b.      Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Desa Wanaraja Kabupaten Garut.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.  Definisi
1.    Perilaku
Menurut Notoatmodjo (2003 : 96) dari segi biologis perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas orgnisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Sehingga yang dimaksud perilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, menulis, membaca, menangis, kuliah dan sebagainya.
Menurut Rogers dan Shoemaker (dalam campbell, 2001) teori yang dinamakan Innovation decision process yang diartikan sebagai proses kejiwaan yang dialami oleh seseorang individu sejak menerima informasi/pengetahuan tentang suatu ide/gagasan. Proses adopsi inovasi akan melalui lima tahap yaitu : menyadari adanya suatu ide (awareness), menaruh perhatian terhadap ide itu (interest), memberikan penilaian (evaluation), mencoba memakainya (trial) dan kalau menyukainya maka akan menerima (adoption).
Menurut Notoadmodjo (1993) suatu gagasan yang bermakna telah dipahami tetapi tidak selau diikuti dengan pelaksaan dapat terjadi karena banyak variabel yang berpengaruh terhadap perilaku. Campbell (2001) mengutip pendapat Rogers mengatakan bahwa suatu perilaku manusia merupakan fungsi karakteristik seseorang dan lingkungan (sarana fisik dan sosial budaya). Dengan demikian pemanfaatan saran kesehatan sifatnya sangat subjektif, sehingga faktor-faktor yang mempengaruhi sangat subjektif pula.
Menurut Green (dalam Notoatmodjo, 2003) bahwa perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama, yakni :
a.       Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor)
Faktor-faktor ini mencakup : pengetahuan dan sikap calon pengantin terhadap pelaksanaan imunissai TT pranikah, tingkat pendidikan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan imunisasi TT pranikah, tingkat sosial ekonomi, dan sebagainya. Semakin tinggi pengetahuan calon pengantin, semakin berkurang masalah dalam penurunan AKB. Perubahan perilaku ini dimulai dengan adanya pengetahuan atau pengalaman belajar yang didapat kemudian timbul terhadap objek yang dikenalkan, selanjutnya terbentuklah sikap yang merupakan dorongan yang terjadinya perubahan perilaku.
b.      Faktor-faktor pemungkin (enambling fators)
Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi calon pengantin, misalnya:  ketersediaan informasi tentang imunisasi, PHBS dan sebagainya. Termasuk fasilitas pelayanan kesehatan seperti Puskesmas, Rumah sakit, Poliklinik, Posyandu, Polindes, Pos obat desa, dokter atau bidan praktek swasta.

c.       Faktor-faktor penguat (reinforcing faktor)
Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma), tokoh agama (toga), sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan. Termasuk juga di sini undang-undang, peraturan-peraturan baik di pusat maupun pemerintahan daerah yang terkait dengan kesehatan. Untuk berperilaku sehat, masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif, dan dukungan fasilitas saja, malainkan diperlukan perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat, tokoh agama, para petugas, lebih-lebih para petugas kesehatan.
Lawrance W. Green (dalam Notoatmodjo, 1993) mencoba menganalisis masalah kesehatan dengan membagi dua faktor yaitu masalah yang barkaitan dengan faktor prilaku dan paktor non prilaku. Selanjutnya prilaku itu sendiri di pengaruhi oleh tiga faktor yaitu faktor predisposisi (predisposing faktors), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, dan nilai. Kedua faktor pendukung (enabling faktor), yang terwujud dalam sikap dan prilaku referens group, seperti petugas kesehatan, kepada kelompok dan peer group. Bagan Precede Lawrence W. Green ini secara singkat dapat dilihat dalam bagan berikut ini:




Bagan  Precede Lawrence W.Green
Sumber : Notoatmojo, S. Pengantar  Pendidikan  Kesehatan  dan  Ilmu perilaku Kesehatan, 1993




Selain itu prilaku manusia juga merupakan resultante dari berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Prilaku manusia marupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan, keinginan, kehendak, minat, motipasi, persepsi dan sikap. Gejala kejiwaan tersebut dipengaruhi berbagai faktor antara lain pengalaman, keyakinan, sarana fisik, dan social, dan social budaya masyarakat (Notoatmodjo et al, 1989).


2.    Pengertian Pengetahuan
Notoatmodjo (2003 : 121) mengemukakan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui panca indera penglihatan dan pendengaran.
Suparlan (2004 : 83) mengemukakan pengetahuan berasal dari akal pikiran akan meningkatkan kepercayaan serta memiliki perkiraan dan pendapat, yang boleh jadi merupakan kepastian. Pengetahuan semacam ini diperoleh melalui jalan pendidikan baik formal maupun informal, dimana pengetahuan akan berpengaruh terhadap kesehatan.
Sedangkan menurut Nursalam (2001, hlm 23) pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setiap orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek.
3.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
a.    Umur
Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa akan lebih di percaya dari yang belum cukup tinggi kedewasannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwa.
b.    Pendidikan
Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin mudah menentukan informasi, makin banyak pengetahuan sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan.
c.    Pengalaman
Individu sebagai orang yang menerima pengalaman, orang yang melakukan tangggapan atau penghayatan biasanya tidak melepaskan pengalaman yang sedang dialaminya.
d.   Pekerjaan
Ibu yang bekerja disektor formal memiliki akses yang lebih baik, terhadap berbagai informasi, termasuk kesehatan. (Depkes RI, 1999, hlm 6).
e.    Inteligensi
Inteligensi pada prinsipnya mempengaruhi kemampuan penyesuaian diri cara-cara pengambilan keputusan (latipon, 2001, hlm 44).
4.    Pengetahuan yang tercakup dalam kognitif mempunyai enam tingkatan sebagai berikut:
a.    Tahu (know)
Tahu artinya mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk dalam pengetahuan adalah mengingat kembali apa yang telah dipelajari atau yang telah diterima.


b.    Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang suatu objek yang diketahui, dan menginterprestasikan materi tersebut.
c.    Aplikasi (application)
Yaitu suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang dipelajari pada suatu kondisi yang sebenarnya.
d.   Analisis (analisys)
Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen – komponen, tetapi masih didalam struktur organisasi, dan masih berkaitan satu sama lain.
e.    Sintesis (syntesis)
Kemampuan untuk meletakkan / menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu kesuluruhan yang baru / kemampuan merumuskan formulasi baru dari yang sudah ada.
f.     Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi / penilaian terhadap suatu materi atau objek, penilaian didasarkan pada kriteria yang telah ditentukan.
5.    Pengukuran Tingkat Pengetahuan
Pengukuran kemampuan dapat diketahui dengan cara orang yang bersangkutan mengungkapkan apa-apa yang diketahuinya dalam bentuk bukti atau jawaban, baik lisan maupun tulisan, bukti atau jawaban tersebut merupakan suatu reaksi dari satu stimulus yang dapat berupa pertanyaan baik lisan maupun tulisan.
6.    Ibu (pendidikan Ibu)
Gadwel mengungkapkan teori bagaimana pendidikan ibu mempengaruhi tingkat kesehatan keluarga (Kartono Muhammad, 1992, hlm 38) yaitu :
a.    Pendidikan mengurangi sifat fatalistik (pasrah kepada masalah ketika anak sakit).
b.    Pendidikan ibu meningkatkan kemampuan untuk memanfaatkan kesempatan dan sarana kesehatan yang ada (Puskesmas, Dokter, Rumah Sakit, dll) untuk menyelamatkan anaknya yang sakit.
c.    Pendidikan mengubah perkembangan dalam menjaga kesehatan keluarga dari sifat yang tradisional yang mengutamakan pada kepentingan suami atau mertua kepada sikap yang sudah lebih seimbang terhadap kepentingan anak-anaknya.
7.    Arti Ibu
Praktisi hukum yang juga Presiden LSM perjuangan hukum politik (PHS) HMK Aldian Pinem, SH. MH memandang sosok ibu sebagai perempuan yang harus dihormati dan dijaga hatinya jangan sampai anak menyakitinya dengan alasan apapun. Tidak dibenarkan untuk menciptakan suatu perbuatan yang dapat menggores hati ibunya. Sedangkan Ibu hamil adalah ibu yang mengandung mulai trimester I sampai dengan trimester III (Dinkes Jateng, 2005).
8.    Konteks umum pengertian ibu ada tiga golongan :
a.    Ibu sebagai orang yang telah melahirkan
b.    Sebagai orang yang berkarya / berkarir
c.    Sebagai seorang istri
Dalam konteks ketiga golongan ini sering terjadi penerapan tentang kodrat sosok bergeser katanya menurut ia, pergeseran tersebut akibat beberapa faktor yakni karena timbulnya asa emansipasi sosial budaya dan spiritual agama.

B.   Tinjauan Teori
1.    Pengertian perkawinan
Perkawinan adalah suatu proses dimana sepasang membelai, penghulu dan kepala agama tentunya juga para saksi dan sejumlah hadirin untuk kemudian disyahkan secara resmi sebagai suami istri dengan ucapan dimana pada akhinya para sepasang pria dan wanita disatukan untuk memiliki satu sama lain. (Johanes. Lowwellyn Bert. 1997)
2.    Alasan Untuk Menikah
a.     Primer
Hasrat berdamping hidup berbahagia dengan pribadi yang dicintai, khususnya dengan perkawinan. Orang mengharapkan bisa mendapatkan pengalaman hidup baru bersama dengan seseorang yang secara esklusif menjadi milik untuk mendapatkan pengakuan dan jaminan hidup sepanjang hidupnya.
b.    Sekunder
1)    Hasrat untuk mendapatkan kewenangan hidup
2)    Ambisi yang besar untuk mendapatkan social yang tinggi
3)    Mempunyai keinginan untuk mendapatkan asuransi hidup dimasa tua
4)    Mempunyai keinginan mendapatkan kepuasan sex dengan pasangan hidupnya
5)    Dorongan cinta terhadap anak ingin mendapatkan keturunan
6)    Keingin untuk mendapatkan nama luhur
3.    Tetanus neonatorum
a.    Pengertian
Tetanus Neonatorum merupakan suatu penyakit akut yang dapat dicegah namun dapat berakibat fatal, yang disebabkan oleh produksi eksotoksin dari kuman Clostridium tetani gram positif, dimana kuman ini mengeluarkan toksin yang dapat menyerang sistem syaraf pusat.
Masa inkubasi kuman 3-28 hari, namun biasanya 6 hari, dimana kematian 100% terjadi terutama pada masa inkubasi < 7 hari.
b.    Faktor predisposisi
1)    Adanya spora tetanus
2)    Adanya jaringan yang mengalami injury, mislanya pemotongan tali pusat
3)    Kondisi luka tidak bersih, yang memungkinkan perkembangan mikroorganisme host yang rentan.

c.    Faktor resiko
1)    Imunisasi TT tidak dilakukan/tidak sesuai dengan ketentuan program
2)    Pertolongan persalinan tidak memenuhi syarat atau tidak sesuai APN
3)    Perawatan tali pusat tidak memenuhi standar kesehatan
d.   Pencegahan
1)    Imunisasi TT
2)    Memperhatikan sterilitas saat pemotongan dan perawatan tali pusat
e.    Kekebalan diperoleh melalui imunisasi TT
Sembuh tidak berarti kebal terhadap tetanus. Toksin tetanus:
1)    Menyebabkan penyakit tetanus
2)    Tidak cukup merangsang pembentukan zat antibody terhadap tetanus
3)    Harus tetap imunisasi TT
Imunisasi TT merangsang pembentukan antibody spesifik yang mempunyai peranan penting dalam perlindungan terhadap tetanus. Ibu hamil mendapatkan imunisasi TT, sehingga terbentuk antibody dalam tubuhnya. Antibody tetanus termasuk golongan Ig G, melewati sawar plasenta, masuk dan menyebar melalui aliran darah janin ke seluruh tubuh janin yang dapat mencegah terjadinya tetanus neonatorum.
f.     Gejala
1)        Bayi yang semula dapat menetek, kemudian sulit menetek karena kejang otot rahang dan faring
2)        Mulut bayi mencucu seperti mulut ikan
3)        Kejang terutama bila terkena rangsang cahaya, suara, sentuhan
4)        Kadang disertai sesak nafas dan mulut bayi membiru
5)        Suhu tubuh meningkat
6)        Kaku kuduk
7)        Kekakuan disertai sianosis
8)        Nadi meningkat
9)        Berkeringat banyak
10)    Tidak dapat menangis lagi
11)    Mata terus tertutup
12)    Dinding perut keras
13)    Kesadaran baik
g.    Komplikasi
1)      Bronkopneumonia
2)      Asfiksia
3)      Sianosis akibat obstruksi jalan nafas oleh lendir/sekret
h.    Prognosa
1)      Bayi mengalmi panas atau peningkatan suhu (prognosa buruk)
2)      Bayi dapat bertahan lebih dari 4 hari (dapat disembuhkan)
3)      Untuk penyembuhan sempurna membutuhkan waktu beberapa minggu
4)      Angka mortalitas 30%
5)      Penyakit ini fatal pada BBL


i.      Penanganan
1)    Mengatasi kejang dengan memberikan suntikan antispasmodic
2)    Membersihkan jalan nafas agar bayi dapat menghirup udara dengan bebas
3)    Pemasangan spatel lidah yang dibungkus dengan kain untuk mencegah lidah tergigit
4)    Mencari tempat masuknya spora tetanus pada tali pusat atau telinga
5)    Mengobati penyebab tetanus dengan antibiotika
6)    Melakukan perawatan yang adekuat, dengan pemberian oksigen, nutrisi serta menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit
7)    Ditempatkan di ruang tenang dengan sedikit sinar
4.    Imunisasi Tetanus Toxoid
a.     Pengertian
Adalah tindakan untuk memberi kekebalan dalam tubuh klien bertempat langsung mencegah terjadinya tetanus neonatorum dengan memasukkan kuman yang sudah dilemahkan.
b.    Jenis dan vaksinasi
Vaksin yang digunakan untuk imunisasi aktif kemasan tunggal vaksin tetanus toxiod (TT) kombinasi difteri (DI) kombinasi difteri tetanus pertusis (DTP) vaksin yang digunakan untuk imunisasi pasif ATS (Anti Tetanus Serum) dapat digunakan untuk pencegahan maupun pengobatan penyakit tetanus.

c.     Cara penyimpanan vaksin TT pada lemari es rak no 2 dengan suhu 8­-9oC
d.    Cara jadwal pemberian
Pada calon pengantin wanita 2 kali bila langsung terjadi kehamilan dengan jarak waktu ³ 2 tahun dilakukan TT ulang pada ibu hamil masing-masing pada kehamilan ke 7 dan ke 8. Dimasa mendatang diharapkan setiap perempuan telah menghadapi imunisasi tetanus 5 kali, sehingga daya perlindungan terhadap tetanus seumur hidup, dengan demikian bayi yang dikandung kelak akan terlindungi dari penyakit tetanus neonatorum. Bentuk vaksin TT cair agak putih keruh dalam vial dosis 0,5 ml/ dalam di olutus maxi atau lengan.
Dosis
Saat pemberian
% perlindungan
Lama perlindungan
TT I


TT II
TT III


TT IV

TT V
Pada saat kunjungan pertama atau sedini mungkin pada kehamilan
Minimal 4 minggu setelah TT I
Minimal 6 minggu setelah TT II atau selama kehamilan berikutnya
Minimal setahun setelah TT III kehamilan berikutnya
Minimal setahun setelah TT kehamilan berikutnya
0 %


80 %
95 %


99 %

99%
1 Tahun


1   Tahun
5 tahun


10 tahun

Selama seumur hidup


Imunisasi TT 5 x untuk kesadaran penuh
TT 1
TT 2
TT 3
TT 4
TT 5
Langkah awal untuk mengembangkan kekebalan tubuh terhadap infeksi
4 minggu setelah TT I untuk menyempurnakan kekebalan
6 bulan atau lebih setelah TT 2 untuk menguatkan kekebalan
1 tahun atau lebih setelah TT 3 untuk meneluarkan kekebalan
1 tahun atau lebih setelah TT 4 untuk mendapat kekebalan penuh


5.    Regulasi Dalam Perkawinan
Kebudayaan manusia terdiri dari landasan norma – norma untuk menetapkan  batas-batas hak kewajiban setiap individu seperti hukum dan regulasi terhadap perkawinan berlandaskan kepada kepentingan insaniah untuk menjamin keamanan pribadi dan stabilisasi sosial sehingga dapat mencegah perbuatan merampas hak anak istri serta orang lain.
Regulasi / peraturan perkawinan meliputi: Faktor umur seks, upacara perkawinan, pembayaran uang nikah, hak dan kewajiban suami istri, batas kekuasaan sebagai suami, pembagian harta dan warisan, peraturan perceraian dan kewajiban memelihara anak keturunan dan sebagaimana. Regulasi sosial mengenai perkawinan kita sampai pada banyak suku bangsa primitif yang kebudayaannya relatif sangat rendah.
Regulasi sosial untuk terjaminnya kesejahteraan sosial keluarga melalui hal-hal sebagai berikut :
a.     Mencegah perkawinan dengan keluarga dekat yaitu mencegah incest dan iriendt menjamin kelestarian umat manusia.
b.    Alasan-alasan eugenee / memperbaiki ras seperti larangan kawin bagi orang gila- penderita penyakit yang berat.
c.     Larangan kawin bagi mereka yang menderita penyakit spilis, dan keturunannya serta patnernya.
d.    Adanya hukum dan undang-undang perkawinan diperlukan untuk mencecah timbulnya perceraian semena-mena.
e.     Adanya kesiapan lahir (materi fisik) dan garis (mental psikologis) social spiritual dan kedua belah pihak.
6.    Dasar Pertimbangan Memilih Jodoh
a.     Faktor bibit
Mempertimbangkan benih asal keturunan yaitu memilih sumber bibit keluarga yang sehat jasmani dan rohaninya dari kasus penyakit keturunan atau penyakit mental tertentu, sebab bibit yang baik akan menurunkan / menghasilkan keturunan baik dan sehat.
b.    Faktor bebet
Berarti keluarga, keturunan dianggap seorang calon suami istri yang mempunyai keturunan bangsawan (darah biru) akan menghasilkan orang cerdik pandai yang mempunyai martabat yang baik, berani dan selalu intropeksi diri, tepat, teliti, akurat, menjalankan ibadah dan hukum serta kepribadian terpuji. Tujuan wawasan hatinya. Sehingga dengan faktor keturunan yang unggul itu diharapkan sepasang suami istri memiliki atribut-atribut terpuji untuk selanjutnya mampu membina keluarga bahagia dan mendapatkan keturunan yang baik.

c.     Faktor bobot
Artinya berbobot yaitu mempunyai harkat. Ilmu pengetahuan yang lengkap memiliki harta kekayaan, kekuasaan dan status social yang cukup mantap sehingga dhargai oleh masyarakat memiliki kekayaan spiritual dan nilai rohaniah serta akherat yang mantap.
Dijaman modern sekarang pada umumnya seseorang akan mengawini seorang pribadi. Karena orang telah dikenalnya. Dimana cinta itu akan berkembamg dengan lewatnya waktu lebih lama, cinta kasih keduanya akan semakin terbiasa terhadap satu sama lain dalam satu periode tertentu.
Peristiwa tersebut mendorong kita untuk tidak memungkiri adanya proses jatuh cinta pada pandangan pertama yang akan diperkuatnya dengan peristiwa mengenal lebih inti sehingga timbullah kesadaran menerima dan mentoleransi ciri-ciri karakteristik masing-masing kedua belah pihak (pria dan wanita).
Biasanya seorang pria akan mengawini seorang wanita, karena itu mencintai atau suka pada wanita tersebut, tidak disebabkan represonsederhana ciri-ciri feminine yang unggul tetapi person ini contreton atau pribadi tertentu yang dicintainya. Namun demikian akibat-akibat dari seorang wanita itu menentukan suksesnya suatu perkawinan. Sedangkan criteria akibat dari seorang wanita itu jauh sebelum usia perkawinan tiba sudah dikhayalkan dan ditentukan tadi.
Berdasarkan penelitian bahwa ada kecenderungan sangat kuat untuk melakukan perkawinan dengan lawan jenis dari status sosial yang atau hampir sama tingkat nya seperti kalangan kaum wanita melihat terdapat kecenderungan untuk melakukan perkawinan dengan pertner pria  dar status ekonom lebih tinggi.
Sedangkan pada pihak kaum pria dengan profesi uang tinggi terdapat tendensi untuk kawin membawah yaitu mengawini wanita dari status intelektual dan ekonomi sedikit lebih rendah dari strata sosialnya sendiri ada 2 teori dalam tendensi umum perkawinan :
1)      Homogami (ikatan perkawinan berdasarkan persamaan ciri-ciri tertentu).
2)      Pasangan yang berjodoh mempunyai sifat-sifat karakteristik yang justru bertentangan, namun saling melengkapi. Mengisi dan sifatnya komplementer.

BAB III
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL

A.    Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah hubungan antara konsep-konsep yang akan diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan. (Notoatmodjo, 2003)
Berdasarkan tinjauan teori pada bab sebelumnya, maka dengan segala keterbatasan, peneliti merumuskan dalam kerangka konsep sebagai berikut :
 











Gambar 3.1 Kerangka Konsep


B.  Hipotesis
1.      Ada hubungan antara pengetahuan dengan minat calon pengantin untuk melakukan imunissai TT pranikah di Desa Wanaraja Kabupaten Garut.
2.      Ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan minat calon pengantin untuk melakukan imunissai TT pranikah di Desa Wanaraja Kabupaten Garut.
3.      Ada hubungan antara status sosial ekonomi dengan minat calon pengantin untuk melakukan imunissai TT pranikah di Desa Wanaraja Kabupaten Garut.

C.    Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No
Variabel
Definisi Operasional
Alat Ukur
Cara Ukur
Hasil Ukur
Skala
1
Pengetahuan
Merupakan berasal dari akal pikiran dan akan menigkatkan kepercayaan serta memiliki saran dan pendapat yang boleh jadi merupakan kepastian
Kuesioner
Wawancara kepada catin
Data pengetahuan catin
Rasio
2
Tingkat Pendidikan
Adalah tingkat pendidikan yang dimiliki oleh responden sesuai ijazah yg dimiliki
Kuesioner
Observasi
Data pendidikan catin
ordinal


3
Status Sosial ekonomi
Adalah sekumpulan hak dan kewajiban yang dimiliki seseorang dalam bermasyarakat baik dari segi sosial maupun ekonom
Kuesioner
Wawancara
Data sosial ekonomi catin
ordinal
4
Sikap petugas
Adalah Pendapat yang dipilih oleh responden terhadap petugas kesehatan
Kuesioner
 wawancara

ordinal
5
Partisipasi Calon pengantin
Adalah persepsi dari responden terhadap imunisasi TT pranikah
Kuesioner
Wawancara

ordinal
6
Fasilitas kesehatan
Adalah ketersediaan sarana di tempat pelaynan imunisasi (puskesmas, posyandu)
Kuesioner
Wawancara

Ordinal


BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode analitik yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama mengkaji hubungan suatu keadaan secara objektif. Penelitian ini  melalui pendekatan cross sectional yaitu pendekatan dimana objek sekali observasi dan pengukuran dilaksanakan pada saat penelitian dengan menggunakan kuesioner dengan satu pengamatan. Dimana data dikumpulan pada waktu bersamaan dan setiap objek hanya diteliti satu kali saja. Dengan metode ini diharapkan mengetahui bagaimana hubungan pengetahuan terhadap pelaksanaan Imunisasi TT pranikah di Desa Wanaraja Kabupaten Garut 2011.

B.     Populasi Dan Sampel
1.      Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti tersebut (Notoatmodjo, 2002 : 79). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh calon pengantian perempuan di wilayah Desa Wanaraja Kabupaten Garur 2011.


2.      Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dadri keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2002 : 79). Dalam penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan tehnik purposive sampling suatu tehnik pengambilan sampel non acak yang berdasrkan responden yang tersedia.


C.    Variabel Penelitian
Varibel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 2 variabel yaitu sebagai berikut:
1.      Variebel Bebas : Pengetahuan
2.      Variabel Terikat : Pelaksanaan Imunisasi TT Pranikah

D.    Waktu Lokasi Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan april-mei tahun 2011, dengan pengambilan lokasi penelitian di Desa Wanaraja Kabupaten Garut dimana pemilihan tempat penelitian ini didasarkan atas berbagai pertimbangan peneliti yaitu lokasi tempat penelitian yang sudah mencukupi jumlah populasi dan sampel serta persyaratan penelitian.



E.     Prosedur Pengumpulan Data
Tehnik pengumpula data meggunakan data primer yang disajikan ke dalam format kuesioner yang mengungkap prilaku calon pengantin perempuan tidak melaksakan imunisasi TT yang meliputi: pengetahuan, sikap, dana atau ekonomi, pelayanan kesehatan, letak geografis, dukungan sosial keluarga atau suami, dan dukungan petugas kesehatan.

F.     Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa format kuesioner diberikan secara langsung kepada responden. Format kuesioner ini berupa pertanyaan tertutup yang dijawab langsung oleh responden tanpa di wakilkan kepada orang lain dengan jumlah pertanyaan sebanyak 15 pertanyaan


DAFTAR PUSTAKA

Lenteraimpian. 2010. Tetanus Neonatorum. [Online]. Tersedia: http://lenteraimpian.wordpress.com/2010/02/27/tetanus-neonatorum/. [11 Maret 2011].

Kusmarjadi, Didi. 2009. Imunisasi TT pada Kehamilan. [Online]. Tersedia: http://www.drdidispog.com/2009/06/imunisasi-tetanus-toxoid-tt.html. [11 Maret 2011].

Alchoier. 2010. Imunisasi TT Pranikah. [Online]. Tersedia: http://alchoier.blogspot.com/2010_06_01_archive.html. [10 Maret 2011].

Bidanpurnama. 2011. Imunisasi TT Pranikah. [Online]. Tersedia: http://bidanpurnama.wordpress.com/2011/01/07/imunisasi-tt-pranikah/. [10 Maret 2011].

Admin. 2010. Cek Kesehatan Pranikah Perlukah?. [Online]. Tersedia: http://ibuprita.suatuhari.com/cek-kesehatan-pranikah-perlukah/.  [10 Maret 2011].

Januadi, E. Judi. 2003. Konseling Pranikah dan Mempersiapkan Kehamilan Sehat. [Online]. Tersedia: http://www.scribd.com/doc/9685032/Konseling-pranikah-Mempersiapkan-Kehamilan-Sehat-April-2003. [10 Maret 2010].

Kristian, Natalie. 2010. Imunisasi. [Online]. Tersedia: http://nataliakristian.multiply.com/journal/item/10/imunisasi. [10 Maret 2010].

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar